Rabu, 15 Juni 2011

SOLOR - MALAYSIA

Solor adalah sebuah pulau dalam deretan kepulauan Solor. Seperti sudah ditulis banyak orang, pulau ini cumalah sebuah pulau kecil dan tandus. Mengandalkan hidup dengan bertani, cumalah sekedar mempertahankan hidup. Bahkan dirasakan semakin sulit dari tahun ke tahun seiring dengan hilangnya hutan karena pembukaan tegalan baru dan semakin tidak menentunya iklim dan cuaca.

Mayoritas masyarakat tinggal di pesisir pantai, tetapi mereka tidak bisa mengandalkan laut sebagai sumber penghidupan mereka. Hal itu karena nenek moyang mereka adalah petani. Ada juga sebagian kecil masyarakat melaut juga, tetapi itu hanya sekedar mengisi waktu luang atau menyalurkan hobi. Hasil tangkapan pun pertama-tama dikhusukan untuk konsumsi sendiri. Kalau hasil tangkapan banyak, maka sebagiannya dijual, bukan dengan maksud untuk menambah penghasilan keluarga, tetapi supaya ikan-ikan tersebut tidak rusak dan dibuang begitu saja.

Karena itu kehidupan ekonomi masyarakat wilayah ini tidak berkembang maju. Bahkan dirasakan semakin sulit dari tahun ke tahun. Kondisi seperti ini memotivasi dan mendorong orang untuk mencari alternatif lain , bagimana cara untuk mendapatkan uang agar bisa bertahan hidup. Maka mulai tahun tujuh puluhan, orang mulai mencobah mengadu nasib di tanah orang alias merantau. Daerah tujuan pada waktu itu adalah Sorong ( Irian jaya ) dan Samarinda ( Kalimantan Timur ). Selang beberapa tahun kemudian, Malaysia membutuhkan banyak tenaga keja untuk pabrik-penggergajian kayu, pengolahan kayu, perkebunan dan peternakan. Semenjak itu berbondong-bongdonglah
orang ke Malaysia. Banyaknya lapangan kerja yang tersedia dengan tawaran gaji yang menggiurkan menjadikan Malaysia bagaikan Surga bagi para pekerja Indonesia pada umumnya dan orang Flores khususnya.

Harus diakui bahwa merantau ke Malaysia pada akhirnya memberikan kontribusi yang besar terhadap kemajuan kehiduipan ekonomi masyarakat. Mereka yang pernah ke Malaysia, sekembalinya ke kampung halamannya,pada umumnya mampu merubah waja desa yang sebelumnya hanya terdiri dari rumah-rumah sederhana menjadi rumah-rumah semi permanen dan permanen. Ada juga sebagian orang bisa membuka usaha baru seperti kios-kios kecil yang menjual berbagai kebutuhan harian. Selain itu banyak orang tua mampu membiayai anak-anak mereka dengan uang hasil kerja di Malaysia.

Sepatutnya kita memberikan apresiasi atas hasil fisik yang bisa dilihat, kita juga tidak dapat menutup mata atas masalah-masalah yang timbul dari fenomena perantauan ini. Harus diakui bahwa kebanyakan para perantau adalah laki-laki yang berstatus suami. Tentu sekali perpisahan dengan istri dalam kurun waktu yang lama, merupakan suatu ancaman serius bagi keutuhan perkawinan. Dampak dari itu adalah banyak perkawinan bubar, karena sang suami memiliki istri baru di Malaysia. memang prosentasinya tidak terlalu besar, tetapi hal seperti ini tidak bisa dibiarkan terus bertumbuh. Harus ada upaya serius untuk mengatasinya. Gereja, khususnya Kerasulan Keluarga semestinya dapat menangkap masalah ini sebagai satu kesempatan untuk melakukan tugas pendampingan demi mempertahankan keutuhan keluarga Kristyiani

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar